Isu Perubahan para Capres dan Cawapres; Pantas Berharap?

Akhir-akhir ini para capres dan cawapres beserta tim suksesnya kian sibuk melaksanakan agenda masing-masing demi memenangkan Pilpres 2009. Jargon dan janji-janji politik tampaknya akan terus disodorkan kepada masyarakat luas hingga bulan Juli mendatang guna merebut kursi RI-1. Dan sebagai akibatnya, kita pun acap kali mendengar pasangan Megawati-Prabowo dan JK-Wiranto menyodorkan isu perubahan dalam materi kampanyenya karena pemerintah sekarang ini dianggap gagal membawa rakyat menuju kesejahteraan. Sementara itu, di pihak lain, SBY-Boediono semakin getol menepis anggapan itu dengan menganggap bahwa sistem dan arah kebijakan pemerintah selama ini adalah sudah benar sehingga perlu dilanjutkan. Baca lebih lanjut

Iklan

Indonesia dalam Pinangan Ideologi

Indonesia dalam Pinangan Sosialis dan Kapitalis, Islam Tersingkir

 Oleh Frenky Suseno Manik, S.Si.

 

Asas yang membangun ideologi Kapitalisme adalah sekulerisme. Sedangkan asas yang membangun ideologi Sosialisme adalah komunisme. Sementara ideologi Islam dibangun dari aqidah Islamiyah yang utuh. Masing-masing ideologi ini akan memerikan sepaket pemikiran khas dan melahirkan sudut pandang maupun pemahaman tertentu dalam memandang manusia, kehidupan dan alam semesta sehingga dihasilkan suatu sistem tatanan kehidupan yang berbeda-beda.

Adalah fakta bahwa ketidakjelasan Indonesia dalam memilih ideologi yang ada disinyalir menjadi penyebab utama mengapa posisi Indonesia di kancah peradaban dunia tidak berpengaruh. Satu masa, Indonesia pernah condong ke sosialis saat dipimpin oleh Soekarno. Beberapa waktu berikutnya, rezim Soeharto menggiring Indonesia untuk tunduk pada sistem kapitalis. Apa yang didapat? Dalam perkembangannya, Indonesia justru menjadi budak Baca lebih lanjut

Pemilu… oh… Pemilu

Pemilu sudah pernah 9 (sembilan) kali dilaksanakan di negeri ini. Acap kali Pemilu ini dianggap mampu membawa perubahan. Coba pikirkan dan rasakan. Nyatanya, Pemilu dan demokrasi tidak membawa perubahan apapun. Janji-janji yang disampaikan oleh parpol peserta Pemilu, caleg, capres dan cawapres akhirnya terbukti hanya pepesan kosong. Wajar jika Pemilu pun nyaris diabaikan, jika tidak bisa dikatakan ditinggalkan, oleh rakyat. Rakyat sudah sadar, bahwa janji-janji perubahan itu hanya omong-kosong. Justru melalui wakil rakyat dan pemerintahan terpilih, produk undang-undang yang memiskinkan mereka pun lahir. UU Migas, UU SDA, UU Minerba, UU Penanaman Modal dan UU BHP adalah sedikit contoh dari produk mereka. Belum lagi kebijakan-kebijakan yang tidak memihak kepentingan mereka.

Saya tidak mempermasalahkan pemilu sebagai sebuah cara untuk menjaring calon-calon penguasa. Perkara yang patut kita pecahkan adalah masih pantaskah kita menggantungkan harapan kepada sistem demokrasi ini? Sementara cita-cita dan idealisme juga urung kita dapatkan dari partai politik yang ada. Dalam konteks parpol Islam misalnya, tak ada satu parpol pun, kontestan pemilu 2009 ini, dapat kita kategorikan berada pada level ideal. Sebut saja PPP, PKS, PBB, PMB, PKNU dan partai Islam lainnya, terbukti mereka hanya membawa simbol-simbol Islam. Tetapi keropos dalam aspek pikiran dan metode perjuangan. Kita bisa tunjukkan hal ini melalui topik yang akan datang. Baca lebih lanjut

Parpol Kontestan Pemilu 2009 Tidak Ideal

Menurut berbagai lembaga riset/survey diprediksikan bahwa tak satu pun partai politik peserta pemilu 2009 akan memperoleh suara di atas 30%. Prediksi itu semakin kuat mengingat banyaknya kontestan. Sehingga distribusi suara pemilih dipastikan tidak akan terkonsentrasi pada satu partai politik (parpol) tertentu.

Hasil penelitian berbagai lembaga ini menunjukkan kepada kita bahwa saat ini tidak ada satu partai politik pun yang dapat mengantongi predikat ideal. Betapa tidak. Survey itu membuktikan bahwa tak satu pun parpol yang eksis dalam system demokrasi di negeri ini berhasil memikat rakyat secara signifikan. Tentu saja ideal yang saya maksud bukan sekedar ditinjau dari segi “visi-misi” partainya melainkan juga termasuk pada aspek “landasan” berdirinya.

Di samping pilihan parpol yang tersedia tidak ideal, diragukannya sistem demokrasi dalam mewujudkan perubahan semakin kuat dengan kenyataan bahwa mayoritas pemilih, menurut berbagai lembaga survey, tidak menjatuhkan pilihannya berdasarkan program-program partai. Lebih banyak dilatarbelakangi oleh unsur-unsur kekerabatan karena ada saudara atau keluarganya yang menjadi caleg. Maraknya politik uang yang mewarnai ajang lima tahunan ini (pemilu) pun semakin mempersempit sebuah harapan akan hadirnya perubahan itu.   Baca lebih lanjut