Isu Perubahan para Capres dan Cawapres; Pantas Berharap?

Akhir-akhir ini para capres dan cawapres beserta tim suksesnya kian sibuk melaksanakan agenda masing-masing demi memenangkan Pilpres 2009. Jargon dan janji-janji politik tampaknya akan terus disodorkan kepada masyarakat luas hingga bulan Juli mendatang guna merebut kursi RI-1. Dan sebagai akibatnya, kita pun acap kali mendengar pasangan Megawati-Prabowo dan JK-Wiranto menyodorkan isu perubahan dalam materi kampanyenya karena pemerintah sekarang ini dianggap gagal membawa rakyat menuju kesejahteraan. Sementara itu, di pihak lain, SBY-Boediono semakin getol menepis anggapan itu dengan menganggap bahwa sistem dan arah kebijakan pemerintah selama ini adalah sudah benar sehingga perlu dilanjutkan. Baca lebih lanjut

Iklan

Hanyalah Omong Kosong Para Capres & Cawapres Menolak Neoliberalisme

Istilah Neoliberalisme yang juga sering dikenal sebagai paham ekonomi neoliberal kembali mencuat akhir-akhir ini terlebih sejak para capres dan cawapres peserta pemilu 2009 saling melontarkan kritik tentang mazhab ekonomi masing-masing. Semua capres dan cawapres yang ada menolak bila diklaim sebagai penganut paham ekonomi neoliberal. Sebab mereka beranggapan bahwa ekonomi neoliberal dapat merusak kehidupan negara. Namun sayangnya upaya untuk menolak paham ekonomi neoliberal tersebut, hingga kini, tidak dibarengi dengan pemahaman di dalam sistem seperti apakah Neoliberalisme ini bisa tumbuh subur? Mengabaikan pemahaman ini sesungguhnya dapat membuat pernyataan para capres dan cawapres tersebut bertolak belakang dari fakta sebenarnya. Baca lebih lanjut

Potret Ideal Umat Islam Tercoreng oleh Demokrasi

Islam adalah sebuah ideologi yang diturunkan oleh Allah Swt. kepada umat manusia. Ideologi Islam ini telah membawa corak pemikiran yang khas bagi manusia dalam melahirkan pandangan hidup yang benar dan mampu menyelesaikan seluruh masalah kehidupan yang ada. Akan tetapi sekulerisme dan perang pemikiran yang digencarkan oleh Barat dewasa ini ternyata berhasil membuat umat Islam rela memisahkan kehidupan mu’amalah mereka dari aturan Islam. Akhirnya umat Islam tidak lagi menjadikan Islam sebagai solusi dalam mengatasi dan memecahkan problematika kehidupan.

Adalah memilukan melihat potret dunia muslim sekarang ini. Mereka terus terjepit oleh pahitnya kemiskinan, melangitnya biaya pendidikan, maraknya KKN, ketimpangan hukum, pemimpin tidak amanah, sembako mahal, pajak yang menggigit dan biaya hidup lain yang kian melangit. Generasi mudanya pun tak henti-henti digerogoti oleh maraknya pergaulan bebas dan hedonis. Sementara di sisi lain, aset-aset negara terus diswastakan oleh para penguasanya. Semua realita pahit ini sebenarnya semakin menggores luka yang selama ini menganga di tubuh kaum muslimin. Namun parahnya Islam masih belum dijadikan sebagai pemecah masalah kehidupan yang ada. Baca lebih lanjut

Negara Penglahir Demokrasi Ternyata Bobrok

Perkembangan pemikiran sosial dan politik berawal di Yunani kuno yang secara sistematis menyelidiki watak dan jalannya institusi politik. Upaya ini melahirkan suatu pola konsepsi sosial dan politik mendasar yang menjadi bagian warisan besar kebudayan dan intelektual Barat. Sebab, di Yunani klasiklah ide pemerintahan demokratis pertama kali dibentuk dan dipraktikkan. Hal ini mengindikasikan bahwa filsafat Yunani klasik adalah sumber penanaman dan pemeliharaan benih peradaban Barat dengan nilai-nilai kebebasan sebagai jantungnya.

Selama abad ke-5 SM, terdapat beratus-ratus negara-kota Yunani dengan berbagai ukuran dan bentuk pemerintahan, dan jenjang peradaban yang beragam. Para intelektual Barat kemudian mengakui bahwa konsep negara-kota yang dipraktikkan pada masa Yunani klasik ini adalah model ideal dalam mengembangkan bangunan demokrasi modern. Oleh karena itu apabila kita hendak menganalisis sistem demokrasi modern yang dibangun oleh para intelektual Barat, maka akan semakin lengkap apabila upaya tersebut dibarengi dengan pemahaman bagaimana realita konsep negara-kota tersebut. Sehingga kita pun mengetahui benarkah negara-negara kota pada masa Yunani klasik adalah gambaran kehidupan bernegara yang ideal?  Atau jangan-jangan konsep ideal negara-kota tersebut dibangun melalui jargon dan stigma manis semata yang tujuannya tiada lain adalah untuk mengokohkan pilar demokrasi yang ternyata lahir dari zaman tersebut? Baca lebih lanjut

Pemilu… oh… Pemilu

Pemilu sudah pernah 9 (sembilan) kali dilaksanakan di negeri ini. Acap kali Pemilu ini dianggap mampu membawa perubahan. Coba pikirkan dan rasakan. Nyatanya, Pemilu dan demokrasi tidak membawa perubahan apapun. Janji-janji yang disampaikan oleh parpol peserta Pemilu, caleg, capres dan cawapres akhirnya terbukti hanya pepesan kosong. Wajar jika Pemilu pun nyaris diabaikan, jika tidak bisa dikatakan ditinggalkan, oleh rakyat. Rakyat sudah sadar, bahwa janji-janji perubahan itu hanya omong-kosong. Justru melalui wakil rakyat dan pemerintahan terpilih, produk undang-undang yang memiskinkan mereka pun lahir. UU Migas, UU SDA, UU Minerba, UU Penanaman Modal dan UU BHP adalah sedikit contoh dari produk mereka. Belum lagi kebijakan-kebijakan yang tidak memihak kepentingan mereka.

Saya tidak mempermasalahkan pemilu sebagai sebuah cara untuk menjaring calon-calon penguasa. Perkara yang patut kita pecahkan adalah masih pantaskah kita menggantungkan harapan kepada sistem demokrasi ini? Sementara cita-cita dan idealisme juga urung kita dapatkan dari partai politik yang ada. Dalam konteks parpol Islam misalnya, tak ada satu parpol pun, kontestan pemilu 2009 ini, dapat kita kategorikan berada pada level ideal. Sebut saja PPP, PKS, PBB, PMB, PKNU dan partai Islam lainnya, terbukti mereka hanya membawa simbol-simbol Islam. Tetapi keropos dalam aspek pikiran dan metode perjuangan. Kita bisa tunjukkan hal ini melalui topik yang akan datang. Baca lebih lanjut

Parpol Kontestan Pemilu 2009 Tidak Ideal

Menurut berbagai lembaga riset/survey diprediksikan bahwa tak satu pun partai politik peserta pemilu 2009 akan memperoleh suara di atas 30%. Prediksi itu semakin kuat mengingat banyaknya kontestan. Sehingga distribusi suara pemilih dipastikan tidak akan terkonsentrasi pada satu partai politik (parpol) tertentu.

Hasil penelitian berbagai lembaga ini menunjukkan kepada kita bahwa saat ini tidak ada satu partai politik pun yang dapat mengantongi predikat ideal. Betapa tidak. Survey itu membuktikan bahwa tak satu pun parpol yang eksis dalam system demokrasi di negeri ini berhasil memikat rakyat secara signifikan. Tentu saja ideal yang saya maksud bukan sekedar ditinjau dari segi “visi-misi” partainya melainkan juga termasuk pada aspek “landasan” berdirinya.

Di samping pilihan parpol yang tersedia tidak ideal, diragukannya sistem demokrasi dalam mewujudkan perubahan semakin kuat dengan kenyataan bahwa mayoritas pemilih, menurut berbagai lembaga survey, tidak menjatuhkan pilihannya berdasarkan program-program partai. Lebih banyak dilatarbelakangi oleh unsur-unsur kekerabatan karena ada saudara atau keluarganya yang menjadi caleg. Maraknya politik uang yang mewarnai ajang lima tahunan ini (pemilu) pun semakin mempersempit sebuah harapan akan hadirnya perubahan itu.   Baca lebih lanjut

Keharaman Dalam Menerapkan Sistem Demokrasi Bukan Masalah Ijtihadiy

Banyak kaum ra ijtihadiy. Berangkat dari asumsi itu, mereka tidak membenarkan orang yang ngotot, “memaksakan” pemahamannya kepada seluruh umat islam bahwa demokrasi adalah sistem kufur yang haram untuk diterapkan. Maka melalui tulisan ini, kami ingin menunjukkan bahwa keharaman penerapan sistem demokrasi adalah perkara yang qoth’i, bukan perkara ijtihadiy. Akan kami tunjukkan bahwa sistem demokrasi itu telah mendapat tanggapan dari nash-nash qoth’i yang telah turun pada masa kenabian. Pembahasan di dalam tulisan ini telah kami atur sedemikian rupa agar pembaca bisa memahami alur fikiran kami dalam menarik kesimpulan. Maka dari itu, kami tidak menghendaki tanggapan yang muncul tanpa mengindahkan uraian yang telah kami susun. Wallaahul Musta’aan

 

Hukum Islam: Ada Yang Qoth’i dan Yang Dzanni


Di dalam islam ada perkara yang tergolong qoth’i (absolut) dan ada pula perkara yang tergolong dzanni (spekulatif). Baca lebih lanjut