AWAS, JEBAKAN MEDIA SOSIAL!

Fenomena media sosial memangg terkadang berhasil memisahkan dua dunia. Dan tidak jarang, bagi sebagian orang, media sosial terbukti sukses membentuk sekat-sekat antara kehidupan maya dan sebenarnya. Masalah pun muncul. Ada yg berteman dgn ribuan org di akunnya, bahkan sering bertegur sapa dgn org2 dr berbagai negara, namun dlm realitasnya ia gagap dlm kehidupan sosialnya, kesepian, dan tersisih di tepi kehidupan nyata.

Haruskah seperti itu? Rasanya tidak mesti begitu. Bukankah media sosial hanyalah sarana yg sepenuhnya bergantung pd si pengguna sarana? Hmm…

Sebagai sebuah alat atau sarana, media sosial itu bebas nilai awalnya. Tak perlu dibedakan dari sisi nyata/mayanya. Sebab, kalau kt menganggap dunia maya dan nyata itu berbeda, sikap dan cara pandang kt tentu akan terus membentuk perbedaan keduanya. Kita akan merasa asyik sendiri menatap layar2 teknologi namun tdk merasakan hangatnya dekapan persahabatan di dunia nyata. Begitulah jebakannya.

Walaupun demikian, kita tdk perlu khawatir berlebihan. Sikapi dgn bijak. Media sosial itu ada jg kok sisi positifnya. Paling tidak dpt mendekatkan yg jauh, mengakrabkan yg dekat dan menghangatkan yg akrab. Yg penting kita selalu ingat bahwa dunia maya dan nyata itu hakikatnya sama. Minimal sama2 bukan area yg bebas hukum dan pengawasan Allah Swt.

Jadi, selama kt terikat pd aturan Islam, memperhatikan tata pergaulan di dlm Islam, menjaga bahasa tulisan agr tak menorehkan bekas2 dosa, in shaa Allah jebakan media sosial itu tdk akan terjadi, bahkan istilah gagap sosial pun tampaknya tak perlu ada lg.

Baca lebih lanjut

Isu Perubahan para Capres dan Cawapres; Pantas Berharap?

Akhir-akhir ini para capres dan cawapres beserta tim suksesnya kian sibuk melaksanakan agenda masing-masing demi memenangkan Pilpres 2009. Jargon dan janji-janji politik tampaknya akan terus disodorkan kepada masyarakat luas hingga bulan Juli mendatang guna merebut kursi RI-1. Dan sebagai akibatnya, kita pun acap kali mendengar pasangan Megawati-Prabowo dan JK-Wiranto menyodorkan isu perubahan dalam materi kampanyenya karena pemerintah sekarang ini dianggap gagal membawa rakyat menuju kesejahteraan. Sementara itu, di pihak lain, SBY-Boediono semakin getol menepis anggapan itu dengan menganggap bahwa sistem dan arah kebijakan pemerintah selama ini adalah sudah benar sehingga perlu dilanjutkan. Baca lebih lanjut

Pendidikan di Negara Islam (Khilafah)

Abu Yasin dalam kitab Strategi Pendidikan Negara Khilafah, telah membahas secara rinci perihal landasan pendidikan formal di dalam suatu negara Khilafah. Beliau memaparkan dengan begitu gamblang bagaimana seharusnya sistem dan strategi pendidikan itu disusun. Dan tentu saja, negara menjadi pihak yang paling bertanggung jawab atas pelaksanaan pendidikan ini.

Sistem pendidikan Negara Khilafah disusun dari sekumpulan hukum-hukum syara’ dan berbagai peraturan administrasi yang berkaitan dengan pendidikan formal. Baca lebih lanjut

Tips Mengelola Keuangan

Anda mungkin termasuk orang yang berpenghasilan ‘rendah’ seperti saya. Tanpa disadari sering kali kita dihadapkan pada kondisi pengeluaran bulanan jauh lebih besar dibanding pendapatan dalam satu bulan. Walaupun besar kecilnya nominal penghasilan itu relatif, bisa dipastikan, kejadian seperti di atas acap kali menimpa kehidupan rumah tangga seseorang. Oleh sebab itu mengelola keuangan dengan bijaksana adalah pilihan. Baca lebih lanjut

Hanyalah Omong Kosong Para Capres & Cawapres Menolak Neoliberalisme

Istilah Neoliberalisme yang juga sering dikenal sebagai paham ekonomi neoliberal kembali mencuat akhir-akhir ini terlebih sejak para capres dan cawapres peserta pemilu 2009 saling melontarkan kritik tentang mazhab ekonomi masing-masing. Semua capres dan cawapres yang ada menolak bila diklaim sebagai penganut paham ekonomi neoliberal. Sebab mereka beranggapan bahwa ekonomi neoliberal dapat merusak kehidupan negara. Namun sayangnya upaya untuk menolak paham ekonomi neoliberal tersebut, hingga kini, tidak dibarengi dengan pemahaman di dalam sistem seperti apakah Neoliberalisme ini bisa tumbuh subur? Mengabaikan pemahaman ini sesungguhnya dapat membuat pernyataan para capres dan cawapres tersebut bertolak belakang dari fakta sebenarnya. Baca lebih lanjut

Petaka Akibat Pornografi dan Pornoaksi

Belum lama ini Mahkamah Konstitusi (MK) menerima pengajuan judicial review dari orang (kelompok) yang hendak menolak UU Pornografi. Mereka berdalih UU itu tidak sesuai dengan hak asasi manusia, pluralisme, kebhinekaan, adat dan budaya dll. Padahal UU itu sendiri sebenarnya tidak akan mampu memperbaiki dekadensi moral yang kian rusak di negeri ini. Tengoklah angka kasus aborsi yang terus membengkak. Perzinahan, seks bebas, perceraian dan lain-lain. Sebuah potret bangsa yang terus menyesakkan dada kita.

Beberapa waktu sebelumnya kita telah menyaksikan berbagai aksi yang dilakukan oleh masyarakat untuk mendesak disahkannya RUU-APP. Sebuah sikap yang dapat dimengerti atas keprihatinan dan keresahan mereka terhadap kebobrokan moral yang selama ini kian menggerogoti. Akan tetapi sayangnya desakan itu tidak lantas langsung berbuahkan hasil. Ada pula segelintir kelompok orang yang justru getol menolak RUU-APP tersebut. Hingga kemudian RUU-Anti Pornografi dan Pornoaksi tersebut akhirnya berubah –dengan berbagai modifikasi– menjadi UU Pornografi yang disinyalir tidak akan mampu membendung kemerosotan taraf berfikir masyarakat. Baca lebih lanjut