Pantas kah Nobel itu Milik Obama?

Pada 9 Oktober 2009, presiden AS Barack Obama dianugerahi Penghargaan Nobel Perdamaian. Pertanyaannya, pantaskah Obama menerimanya?

Merunut sepak terjang kebijakan politik luar negeri Obama terhadap Palestina, Afghanistan, Pakistan, Somalia, Sudan, Irak maupun Iran akhir-akhir ini, saya berkesimpulan bahwa ada skenario tersembunyi yang ingin dibangun Barat dibalik penghargaan nobel ini. Sebab, dengan dalih apa pun, sesungguhnya, Obama tidaklah pantas menerimanya.

Obama mungkin telah mencuri hati para komite Nobel, tetapi bagi Muslim dan sebagian besar dunia, Obama sejatinya adalah pemimpin rezim imperialistik yang menjadi musuh kemanusiaan dan perdamaian dunia.

Iklan

Dunia dalam Data

Berikut beberapa informasi tentang kejadian-kejadian dari berbagai belahan dunia yang pernah saya upload dalam status Facebook saya. Semoga bermanfaat.

Dalam Genaral Debate of the 64th Session (2009) Sekjen PBB, Ban Ki-moon, melaporkan bahwa krisis yang diakibatkan oleh sistem kapitalisme global akan mengakibatkan 100 juta orang hidup di bawah garis kemiskinan pada tahun ini. Sun at 12:27pm

Sebuah jajak pendapat yang dirilis oleh International Republican Institute, Kamis (1/10/2009), menyebutkan bahwa 80% warga Pakistan menolak kebijakan pemerintah yang telah membantu AS dalam memerangi para mujahidin di wilayah perbatasan Pakistan – Afghanistan. Lebih dari 70 serangan rudal telah dilakukan di barat laut Pakistan selama setahun terakhir dan telah merenggut ratusan nyawa warga sipil. Begitulah potret penguasa boneka… yang tunduk pada kehendak tuannya (baca : AS). Sun at 11:42am

Dalam lima puluh tahun terakhir, dunia kita telah dilanda konflik kekerasan yang telah merenggut nyawa jutaan warga sipil & mengakibatkan puluhan juta orang mengungsi. Konflik ini acap kali dimotivasi oleh kebencian terhadap etnis atau agama, konfrontasi ideologi & demi mengejar kepentingan ekonomi. AS (Kapitalisme) dan Uni Soviet (Sosialisme) adalah negara yang paling banyak merenggut nyawa dari konflik seperti ini. September 29 at 3:44pm Baca lebih lanjut

Bangkitnya Ideologi Islam Tak Akan Terbendung

Engels dalam “Scientific versus Utopian Socialism” mengungkapkan bahwa akar semua perubahan sosial dan revolusi politik adalah keadaan ekonomi jamannya. Pandangan Engels inilah yang acap kali digunakan oleh para pembuat kebijakan di seluruh negara dunia dalam mengantisipasi arus revolusi dan gejolak sosial yang ada. Penganut pandangan ini mengklaim bahwa sistem ekonomi yang berkeadilan serta terciptanya masyarakat yang sejahtera pada suatu negara akan dapat meredam gejolak konflik fisik secara langsung maupun benturan ide dan pemikiran.

Akan tetapi, mereka lupa satu hal, bahwa desakan bangkitnya sebuah ideologi  (Islam) sesungguhnya tak akan terbendung oleh kekuatan apa pun juga. Sebab, ideologi itu bagai bara api yang siap membakar semangat para pengembannya dalam mendobrak realitas menuju idealitas. Sejarah telah membuktikan bagaimana masyarakat kafir Qurais di Mekkah pada masa lalu, menyambut hadirnya peradaban Islam bukan karena keadaan ekonomi jamannya, melainkan karena kebenaran dan keagungan peradaban Islam.

Dengan demikian, yakinlah saudaraku, kebangkitan Islam sungguh akan segera tiba. Songsong fajar kebangkitan Islam itu dengan tekad penuh kesabaran mendakwahkan Islam, tentunya tanpa noda kekerasan. Allahu Akbar!

Manifesto Hizbut Tahrir Indonesia Vs Manifesto Komunis

Adalah menarik melihat sepak terjang dakwah Hizbut Tahrir di Indonesia akhir-akhir ini. Selain karena bertambahnya dukungan dari berbagai tokoh yang ada di tanah air, Hizbut Tahrir Indonesia (HTI) tampaknya juga kian memantapkan kiprahnya dalam membina umat dengan tsaqofah-tsaqofah Islam. Terbukti dari tawaran yang diberikan HTI kepada Indonesia yang terwujud dalam apa yang disebut Manifesto Hizbut Tahrir untuk Indonesia (Manifesto HTI).

Konon kabarnya, Manifesto HTI ini lahir dilatarbelakangi oleh suana publik yang sekarang ini, menjelang pemilihan kepemimpinan nasional 2009,  tengah bingung menilik tawaran-tawaran konseptual mengenai sistem pengaturan kehidupan bermasyarakat dan bernegara. Terlebih lagi ideologi Islam masih belum muncul ke permukaan publik untuk dijadikan sebagai sistem alternatif bagi Indonesia.

Dalam rilis Hizbut Tahrir Indonesia (HTI) melalui situs resminya disebutkan bahwa Manifesto HTI adalah bagian dari upaya HTI untuk mensosialisasikan ide atau konsep praktis mengenai pengaturan kehidupan sebuah negara yang menerapkan sistem Islam secara utuh (Daulah Khilafah) sehingga umat Islam dapat mengetahui bahwa Manifesto HTI adalah jalan baru untuk masa depan yang lebih baik. Dan uniknya, Ideologi Islam tetap menjadi inti dari Manifesto HTI tanpa sedikit pun berkompromi dengan ideologi yang ada, sekulerisme dan komunisme. Baca lebih lanjut

Isu Perubahan para Capres dan Cawapres; Pantas Berharap?

Akhir-akhir ini para capres dan cawapres beserta tim suksesnya kian sibuk melaksanakan agenda masing-masing demi memenangkan Pilpres 2009. Jargon dan janji-janji politik tampaknya akan terus disodorkan kepada masyarakat luas hingga bulan Juli mendatang guna merebut kursi RI-1. Dan sebagai akibatnya, kita pun acap kali mendengar pasangan Megawati-Prabowo dan JK-Wiranto menyodorkan isu perubahan dalam materi kampanyenya karena pemerintah sekarang ini dianggap gagal membawa rakyat menuju kesejahteraan. Sementara itu, di pihak lain, SBY-Boediono semakin getol menepis anggapan itu dengan menganggap bahwa sistem dan arah kebijakan pemerintah selama ini adalah sudah benar sehingga perlu dilanjutkan. Baca lebih lanjut

Pendidikan di Negara Islam (Khilafah)

Abu Yasin dalam kitab Strategi Pendidikan Negara Khilafah, telah membahas secara rinci perihal landasan pendidikan formal di dalam suatu negara Khilafah. Beliau memaparkan dengan begitu gamblang bagaimana seharusnya sistem dan strategi pendidikan itu disusun. Dan tentu saja, negara menjadi pihak yang paling bertanggung jawab atas pelaksanaan pendidikan ini.

Sistem pendidikan Negara Khilafah disusun dari sekumpulan hukum-hukum syara’ dan berbagai peraturan administrasi yang berkaitan dengan pendidikan formal. Baca lebih lanjut

Hanyalah Omong Kosong Para Capres & Cawapres Menolak Neoliberalisme

Istilah Neoliberalisme yang juga sering dikenal sebagai paham ekonomi neoliberal kembali mencuat akhir-akhir ini terlebih sejak para capres dan cawapres peserta pemilu 2009 saling melontarkan kritik tentang mazhab ekonomi masing-masing. Semua capres dan cawapres yang ada menolak bila diklaim sebagai penganut paham ekonomi neoliberal. Sebab mereka beranggapan bahwa ekonomi neoliberal dapat merusak kehidupan negara. Namun sayangnya upaya untuk menolak paham ekonomi neoliberal tersebut, hingga kini, tidak dibarengi dengan pemahaman di dalam sistem seperti apakah Neoliberalisme ini bisa tumbuh subur? Mengabaikan pemahaman ini sesungguhnya dapat membuat pernyataan para capres dan cawapres tersebut bertolak belakang dari fakta sebenarnya. Baca lebih lanjut