Di Balik Perseteruan Indonesia-Malaysia

Akhir-akhir ini semua orang sibuk membincangkan panasnya hubungan bilateral antara Indonesia dengan Malaysia. Kuatnya desakan agar pemerintah Republik Indonesia (RI) bersikap tegas terhadap sepak terjang Malaysia tampaknya kian tak terbendung. Aksi unjuk rasa digelar beberapa kali dari tempat yang berbeda. Mereka menganggap pemerintah RI tak serius menjaga kedaulatan negeri ini dan terkesan diam atas perilaku aparat Malaysia yang dianggap berlebihan.

Terlepas dari pro-kontra hal tersebut, karena tulisan ini tidak dimaksudkan untuk menganalisa setiap permasalahan yang ada, saya hanya ingin menyampaikan agar kiranya Indonesia-Malaysia tetap waspada atas kepentingan pihak ketiga dari perseteruan ini. Maksudnya, berhati-hatilah terhadap adu domba asing. Bukankah ketika Indonesia-Malaysia berseteru maka PBB, khususnya Amerika Serikat (AS), akan masuk ke Selat Malaka dan membentuk pangkalan militer di sana dengan dalih penjaga perdamaian kawasan?

Semua orang memahami bahwa penguasaan wilayah strategis Selat Malaka adalah sesuatu yang sangat mereka (AS) dambakan selama ini, tetapi belum berhasil. Dan dimana-mana, ketika AS berhasil masuk ke suatu wilayah konflik, sulit sekali keluarnya. Jadi, waspadalah. Jangan sampai diperalat, apalagi diperbudak oleh negara adidaya untuk sesuatu yang merugikan bahkan menghinakan kita.

Iklan

Ideologi Peradaban Dunia Berikutnya?

Sejak runtuhnya Uni Soviet, spektrum dominasi Amerika Serikat (AS) di berbagai negara semakin tak terbendung. Ada yang beranggapan bahwa keruntuhan Uni Soviet itu menandai berakhirnya perselisihan antara Marxisme dan Liberalisme. Pada akhirnya, demokrasi liberal Barat tampak seolah-olah telah menjadi ‘bentuk akhir dari rangkaian peradaban manusia’. Hal ini jualah yang menyebabkan mengapa banyak pengamat meyakini bahwa supremasi AS adalah sebuah peradaban yang tak tertandingi oleh kekuatan apa pun.

Akan tetapi, siapapun yang memiliki sedikit kesadaran geo-politik akan melihat betapa Amerika sekarang ini sangat khawatir pada kian meningkatnya kekuatan Cina dan India. Sebab, selain Rusia, Cina dan India adalah negara penantang baru yang tengah mengalami kebangkitan pada berbagai bidang, termasuk ekonomi dan militernya. Sehingga hal ini menjadi masalah serius bagi Amerika dalam mempertahankan dominasinya di dunia.

Di samping itu, Amerika pun menyadari bahwa tantangan terbesar lainnya justru datang dari umat Islam. Baca lebih lanjut

Bangladesh Target Amerika Selanjutnya

Pada tanggal 05 Oktober 2009 yang lalu, kedutaan Amerika Serikat (AS) dalam siaran pers mengumumkan bahwa militer Amerika dan Bangladesh akan melakukan latihan militer bersama dalam waktu dekat. Untuk menindaklanjuti rencana ini, petinggi-petinggi militer AS seperti John M. Bird dan Randolph D. Alles, menurut rencana akan mengunjungi Dhaka pada bulan November tahun ini. Selain bertemu dengan para pejabat senior pemerintahan, mereka juga dijadwalkan akan bertemu dengan petinggi-petinggi Angkatan Darat Bangladesh dan Kepala Staf Angkatan Laut Bangladesh. Diskusi mereka akan fokus pada kesiapan wilayah dan jumlah pasukan keamanan cadangan termasuk pendekatan bilateral untuk menjaga stabilitas regional.

Bagi kedua negara, latihan perang ini begitu urgen. Bagi AS sendiri, kerja sama ini pastinya akan memperkuat dominasi AS di kawasan tersebut. Sedangkan bagi Bangladesh, sebagaimana yang diklaim Amerika, latihan perang ini akan memperkuat Angkatan Laut Bangladesh dalam memerangi apa yang mereka sebut dengan ‘Islam militan’ dan memberantas aksi para bajak laut di perairan Bangladesh.

Latihan perang seperti ini sebenarnya tidak lebih dari sebuah desain berbahaya Amerika yang akan merugikan umat Islam. Mengapa? Baca lebih lanjut

Gejolak Pakistan, Siapa yang Diuntungkan?

Beberapa hari setelah serangan ke lembah Swat, menteri Luar Negeri Pakistan Shah Mahmood Qureshi berkunjung ke Washington untuk meminta langsung agar Presiden Obama memperhatikan gejolak keamanan di Pakistan pasca operasi militer. Kunjungan Qureshi juga terkait dengan rencana operasi militer yang akan diarahkan ke Waziristan.

Langkah politik ini sedemikian penting bagi kedua belah pihak, mengingat Menteri Pertahanan Amerika Serikat (AS) menyebut wilayah perbatasan Afghanistan dengan Pakistan merupakan “episentrum jihad.” Sehingga fokus AS pada Pakistan baru-baru ini menunjukkan bahwa Pakistan memiliki peranan penting dalam perang melawan al Qaeda dan Taliban. Sedangkan bagi rezim Pakistan, kerja sama ini akan semakin menguatkan posisi mereka dan Pakistan dapat menerima paket bantuan sebagaimana kesepakatan yang telah dijanjikan. Baca lebih lanjut

Menentang Operasi Militer ke Waziristan, Lebih Dari 30 Orang Anggota dan Pendukung Hizbut Tahrir Pakistan Ditangkap

Merasa mendapat perlawanan intelektual dari gerakan dakwah Hizbut Tahrir, pemerintah Pakistan beberapa hari lalu menyerbu sebuah seminar damai yang diselenggarakan oleh Hizbut Tahrir dan menangkap lebih dari 30 orang anggota dan pendukung Hizbut Tahrir, termasuk Wakil Juru Bicara Hizbut Tahrir di Pakistan, Imran Yusufzai. Pemerintah Pakistan menganggap bahwa Hizbut Tahrir adalah pihak yang selama ini dianggap paling getol memobilisasi rakyat untuk mencegah operasi militer terhadap warga sipil tak berdosa di Waziristan dan menolak pasukan Pakistan dijadikan sebagai bahan bakar untuk perang Amerika.

Tindakan penangkapan tersebut merupakan wujud dari kekalahan intelektual rezim Zardari dalam menghadapi dakwah pemikiran yang digencarkan Hizbut Tahrir selama ini. Sebab, sejak awal Oktober 2009, sebenarnya Zardari sudah berulang kali mengkampanyekan isu tentang pentingnya meluncurkan operasi militer ke wilayah Waziristan. Namun rencana serangan itu mendapat kecaman keras dari publik, khususnya, oleh karena pengaruh dakwah -tanpa kekerasan- Hizbut Tahrir. Baca lebih lanjut

Operasi Militer ke Waziristan, Zardari Pengkhianat Umat

Pada awal Oktober 2009, rezim Zardari sudah berulang kali mengkampanyekan isu tentang pentingnya meluncurkan operasi militer ke wilayah Waziristan. Namun rencana serangan itu mendapat kecaman keras dari publik. Sebelumnya dalam operasi militer di Swat, pemerintah Pakistan telah menewaskan ribuan anak-anak, lanjut usia dan para wanita. Pemerintah menghancurkan rumah-rumah mereka, pasar dan jalan-jalan. Rezim Zardari tak tinggal diam. Beberapa skenario pun mulai disusun.

Kampanye operasi militer ke wilayah Waziristan ini kembali mencuat setelah tentara Pakistan berhasil mengepung kaum muslimin di Waziristan sejak beberapa bulan lalu. Upaya ini dilakukan dengan cara pemberlakuan jam malam serta menghentikan pasokan makanan dan persediaan penting lainnya ke wilayah Waziristan. Sehingga kondisi Waziristan sekarang pun berubah bak neraka yang mencekam. Baca lebih lanjut

Akhir Dominasi AS

Sejak runtuhnya Uni Soviet, spektrum dominasi Amerika Serikat (AS) di berbagai negara semakin tak terbendung. Ada yang beranggapan bahwa keruntuhan Uni Soviet itu menandai berakhirnya perselisihan antara Marxisme dan Liberalisme. Pada akhirnya, demokrasi liberal Barat tampak seolah-olah telah menjadi ‘bentuk akhir dari rangkaian peradaban manusia’. Hal ini jualah yang menyebabkan mengapa banyak pengamat meyakini bahwa supremasi AS adalah sebuah peradaban yang tak tertandingi oleh kekuatan apa pun. Namun menilik apa yang terjadi pada  satu dekade terakhir, benarkah asumsi tersebut? Sementara krisis ekonomi, dekadensi moral dan kebijakan luar negeri AS akhir-akhir ini semakin menunjukkan betapa rapuhnya AS dan ideologi Kapitalisme yang diembannya. Baca lebih lanjut