Gejolak Pakistan, Siapa yang Diuntungkan?

Beberapa hari setelah serangan ke lembah Swat, menteri Luar Negeri Pakistan Shah Mahmood Qureshi berkunjung ke Washington untuk meminta langsung agar Presiden Obama memperhatikan gejolak keamanan di Pakistan pasca operasi militer. Kunjungan Qureshi juga terkait dengan rencana operasi militer yang akan diarahkan ke Waziristan.

Langkah politik ini sedemikian penting bagi kedua belah pihak, mengingat Menteri Pertahanan Amerika Serikat (AS) menyebut wilayah perbatasan Afghanistan dengan Pakistan merupakan “episentrum jihad.” Sehingga fokus AS pada Pakistan baru-baru ini menunjukkan bahwa Pakistan memiliki peranan penting dalam perang melawan al Qaeda dan Taliban. Sedangkan bagi rezim Pakistan, kerja sama ini akan semakin menguatkan posisi mereka dan Pakistan dapat menerima paket bantuan sebagaimana kesepakatan yang telah dijanjikan.

Itulah sebabnya mengapa Qureshi dan Menteri Luar Negeri AS Hillary Clinton minggu ini menjadikan “kemitraan” sebagai fokus bersama, dalam arti bersatu padu dalam suatu “kemitraan strategis” melawan musuh bersama. Lagi pula, Obama mengakui Amerika Serikat tidak bisa menang di Afghanistan tanpa kerjasama dari Pakistan, yang dicurigai menjadi tempat persembunyian Obama bin Laden dan pemimpin Al Qaeda lainnya.

Akan tetapi hubungan ini tampaknya diperkeruh oleh aksi penolakan dari rakyat Pakistan. Sebuah jajak pendapat yang dirilis oleh International Republican Institute, Kamis (1/10/2009), menyebutkan bahwa 80% warga Pakistan menolak kebijakan pemerintah yang telah membantu AS dalam memerangi para mujahidin di wilayah perbatasan Pakistan – Afghanistan. Lebih dari 70 serangan rudal telah dilakukan di barat laut Pakistan selama setahun terakhir dan telah merenggut ratusan nyawa warga sipil. Apa boleh kata, penguasa boneka Pakistan tetap menutup mata.

Pada akhir 1980-an, Amerika Serikat pernah bekerjasama dengan Pakistan memasok senjata dan memberikan pelatihan militer bagi pejuang mujahidin untuk mengalahkan Soviet di Afghanistan. Setelah pejuang mujahidin berhasil mengusir Soviet, Amerika Serikat pun beralih dan sekarang malah memerangi mujahidin. Tampak jelas, politik luar negeri AS hanyalah kepentingan imperialisme busuk yang harus dihentikan. Namun sayangnya, dalam kunjungannya, Qureshi mendesak Amerika Serikat untuk tidak mengulangi sejarah, melainkan mengartikulasikan sebuah “komitmen jangka panjang” bersama rezim Pakistan.

Konon Amerika Serikat dalam komitmennya, dikabarkan menjanjikan paket bantuan senilai $ 1,5 milyar per tahun, selama lima tahun, kepada Pakistan. Dengan membangun jalan, sekolah dan lembaga-lembaga demokratis serta memperkuat anggaran militer, Amerika Serikat berharap Pakistan dapat memerangi ekstremisme Islam dan mengurangi anti-Amerikanisme yang kian meningkat di sana. Terlebih Amerika Serikat sangat terkesan atas operasi militer yang dilakukan oleh tentara Pakistan baru-baru ini di Swat dan Waziristan.

Sebuah laporan PBB mencatat bahwa terhitung dari awal tahun hingga Agustus 2009 korban warga sipil yang tewas akibat serangan AS bersama NATO di Afghanistan telah mencapai 1.500 jiwa. Di bulan Agustus tahun ini saja korban sipil yang tewas akibat serangan udara NATO mencapai 174 orang. Pengadilan Kriminal Internasional (ICC) sedang mempelajari bukti-bukti tentang dugaan kejahatan kemanusiaan di Afghanistan.

Data tersebut sebenarnya menunjukkan bahwa kondisi AS sekarang ini sebenarnya amat parah akibat perlahan-lahan kehabisan darah dari luka yang ia peroleh dari perang Irak dan Afghanistan. Bahkan, luka yang AS peroleh ini tidak menunjukkan tanda-tanda akan membaik. Bagi pemerintahan AS, kedua perang itu berlangsung lebih lama dari Perang Dunia ke-2 dan merupakan perang tersulit. Buktinya hingga kini, tentara AS yang memiliki teknologi persenjataan militer tercanggih di dunia pun, belum mampu mengalahkan kelompok mujahidin yang hanya menggunakan persenjataan sederhana produksi tahun 1960-an. Sadar atas kegagalannya itulah membuat AS harus bersandar pada negara-negara regional untuk menghindari rasa malu karena telah banyak membunuh warga sipil, termasuk dengan mendapatkan bantuan dari penguasa Pakistan.

Sungguh mengecewakan, alih-alih mengirim tentara Pakistan untuk memerangi musuh yang sebenarnya -India di Kashmir dan Amerika di perbatasan Afghanistan- rezim Zardari malah menggunakan mereka untuk menumpahkan darah sesama muslim. Kebijakan ini tidak hanya menciptakan kekacauan di Pakistan tetapi juga melanggengkan invasi Amerika ke Afghanistan.

Dan Pemerintah diktator Pakistan pun kian menggiring negaranya ke lubang busuk sekulerisme dengan mencampakkan syariat Islam dari kehidupan mu’amalah warganya. Barat, khususnya AS, bertepuk tangan menyaksikan sepak terjang para bonekanya itu. Sadarlah wahai penguasa boneka asing…!!! Kelak, seorang Khalifah akan datang membalas!!!

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s