Akhir Dominasi AS

Sejak runtuhnya Uni Soviet, spektrum dominasi Amerika Serikat (AS) di berbagai negara semakin tak terbendung. Ada yang beranggapan bahwa keruntuhan Uni Soviet itu menandai berakhirnya perselisihan antara Marxisme dan Liberalisme. Pada akhirnya, demokrasi liberal Barat tampak seolah-olah telah menjadi ‘bentuk akhir dari rangkaian peradaban manusia’. Hal ini jualah yang menyebabkan mengapa banyak pengamat meyakini bahwa supremasi AS adalah sebuah peradaban yang tak tertandingi oleh kekuatan apa pun. Namun menilik apa yang terjadi pada  satu dekade terakhir, benarkah asumsi tersebut? Sementara krisis ekonomi, dekadensi moral dan kebijakan luar negeri AS akhir-akhir ini semakin menunjukkan betapa rapuhnya AS dan ideologi Kapitalisme yang diembannya.

Beberapa Fakta

Kondisi AS sekarang ini sebenarnya amat parah akibat  perlahan-lahan kehabisan darah dari luka yang ia peroleh dari perang Irak dan Afghanistan. Bahkan, luka yang AS peroleh ini tidak menunjukkan tanda-tanda akan membaik. Bagi pemerintahan AS, kedua perang itu berlangsung lebih lama dari Perang Dunia ke-2 dan merupakan perang tersulit. Buktinya hingga kini, tentara AS yang memiliki teknologi persenjataan militer tercanggih di dunia pun, belum mampu mengalahkan kelompok mujahidin yang hanya menggunakan persenjataan sederhana yang diproduksi pada tahun 1960-an. Sadar atas kegagalannya, AS pun harus bersandar pada negara-negara regional untuk menghindari rasa malu. Mencuat sebuah laporan rahasia bahwa ternyata Amerika Serikat telah meminta bantuan Suriah dan Iran untuk turut membantunya menjaga stabilitas keamanan di sana.

Kondisi tersebut membuat pengaruh AS kian terancam. Sedangkan di phak lain, Rusia dan Cina berkembang pesat dan muncul sebagai kekuatan baru. Bahkan Rusia, selama setahun terakhir, telah memilih menantang Barat dan Amerika Serikat secara terbuka hampir di setiap kesempatan, baik dalam uji coba persenjataan atau berselisih dalam hal sistem pertahanan peringatan dini Eropa Timur. Rusia kini telah mulai menjadikan dirinya sebagai kekuatan baru di kawasan setelah memenangkan kembali Kazakhstan dan Uzbekistan dari cengkeraman Amerika Serikat. Setelah hampir 20 tahun tidak memiliki saingan, sekarang AS menghadapi tantangan besar dari Rusia yang memiliki cadangan minyak dan gas berlimpah tanpa mengikuti  sistem demokrasi liberal Barat.

Selain itu, AS juga mulai kehilangan cengkeramannya di Amerika Latin. Pemerintah Venezuela, Brasil, Argentina, Uruguay, Bolivia, Chili dan Nikaragua, semakin gigih menghapuskan dominasi Amerika Serikat dengan menasionalisasi berbagai aset-aset vital yang selama ini dikuasai Amerika Serikat.

Di samping fakta tersebut, AS juga semakin kehilangan pengaruhnya di bidang perekonomian global. Sebelumnya, pertumbuhan ekonomi dunia berpusat di Amerika Serikat, namun pertumbuhan ekonomi yang pesat itu mulai beralih ke Cina dan India. Sebagai catatan, perusahaan AS dikabarkan bersemangat untuk memasuki pangsa pasar 1,5 milyar penduduk Cina, sementara pada saat yang sama 70% dari barang-barang Cina sudah  masuk ke AS. Adalah Cina mendapatkan manfaat lebih banyak dari hubungan ini daripada AS. Dari perdagangan antarkedua negara, Cina berhasil mengumpulkan lebih dari $ 1.2 triliun devisa. Perusahaan-perusahaan domestik AS di sisi lain tidak mampu mengungguli persaingan harga produk-produk Cina sehingga mengakibakan defisit perdagangan AS hampir mencapai $ 1 triliun. Hal ini diperparah lagi dengan permintaan minyak Amerika Serikat yang berambah besar dari tahun ke tahun.

Selain kegagalan dari perang Irak dan Afghanistan, masalah kehidupan sosial kemasyarakatan juga  semakin membuat AS babak belur.  Menurut statistik FBI yang dirilis pada tahun 2005, angka kriminalitas di AS meningkat tajam. Tercatat bahwa kejahatan  dilakukan setiap 22 detik di AS, dengan kasus pembunuhan dilakukan setiap 31 menit, kasus pemerkosaan terjadi setiap 5 menit dan perampokan terjadi setiap menit.

Dengan demikian jelaslah bahwa AS sesungguhnya adalah negara sakit dan lemah. Dominasi AS di dunia pun semakin goyah dan akan tergantikan, sementara kesenjangan antara AS dan negara-negara penantangnya, Rusia dan Cina, bertambah besar. Namun sayangnya, Rusia dan Cina adalah negara komunis. Oleh karena itu, ideologi Islam dalam naungan Daulah Khilafah Islamiyah semestinya dijadikan satu-satunya alternatif dalam melahirkan peradaban baru yang lebih baik.

Iklan

2 comments on “Akhir Dominasi AS

  1. Datangnya pertolongan Allah itu disyaratkan adanya pertolongan kita kepada agama-Nya. Bahkan sangat penting para aktivis yang ikhlas itu mengerahkan segala kesungguhan dan daya-upayanya, bahkan untuk melipatgandakan upayanya. Hal itu dibarengi dengan kesanggupan menanggung kesulitan, apapun bentuknya. Mereka harus menghiasi diri dengan kesabaran dan keteguhan dalam kebenaran. Mereka harus berpegang teguh dengan mabda’ (ideologi) Islam dan pada metode Rasul Saw. hingga tercapai yang mereka inginkan.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s