Isu Perubahan para Capres dan Cawapres; Pantas Berharap?

Akhir-akhir ini para capres dan cawapres beserta tim suksesnya kian sibuk melaksanakan agenda masing-masing demi memenangkan Pilpres 2009. Jargon dan janji-janji politik tampaknya akan terus disodorkan kepada masyarakat luas hingga bulan Juli mendatang guna merebut kursi RI-1. Dan sebagai akibatnya, kita pun acap kali mendengar pasangan Megawati-Prabowo dan JK-Wiranto menyodorkan isu perubahan dalam materi kampanyenya karena pemerintah sekarang ini dianggap gagal membawa rakyat menuju kesejahteraan. Sementara itu, di pihak lain, SBY-Boediono semakin getol menepis anggapan itu dengan menganggap bahwa sistem dan arah kebijakan pemerintah selama ini adalah sudah benar sehingga perlu dilanjutkan.

Terlepas dari debat di atas sesungguhnya saya ragu 100% para Capres dan Cawapres kontestan pemilu 2009 kali ini akan mampu membawa perubahan. Bukan karena meragui kemampuan dan semangat nasionalisme mereka. Melainkan karena sistem demokrasi yang tetap mereka paksakan kepada rakyat Indonesia.

Dugaan saya ini sebenarnya bukan tanpa alasan. Banyak argumentasi yang menguatkan, mulai dari dalil-dalil syar’i tentang haramnya menggunakan sistem demokrasi dalam kehidupan bernegara hingga perdebatan dalam ranah filsafat politik yang membangun kelahiran sistem demokrasi.

Tengok saja seorang Plato yang dihormati karena dianggap sebagai filsuf pertama peletak teori politik sistematis, melalui bukunya yang terkenal Republic, merasakan dan mengakui bahwa pemerintahan demokratik memiliki problem dan kelemahan. Disebutkannya bahwa sistem demokrasi sesungguhnya tidak akan mampu menjaga penguasa agar tetap menjadikan semua motif politiknya  berjalan dalam rangka  mencapai kesejahteraan umum. Plato semakin yakin betapa lemahnya pemeritahan demokratik tersebut semenjak dia berusia 23 tahun saat melihat Athena jatuh ke tangan Sparta.

Menariknya Aristoteles pada generasi selanjutnya juga turut membuktikan kebenaran pemikiran Plato tentang betapa bobroknya sistem pemerintahan demokratik tersebut. Aristoteles berpandangan bahwa pemerintah dan pembuat kebijakan dalam sistem demokrasi sering tidak lebih dari sekedar ratifikasi atas keputusan-keputusan yang dibuat oleh pemegang kekuasaan ekonomi.

Nah… Merujuk dalil sejarah di atas, sebetulnya sudah tampak jelas, masih pantaskah kita mengharapkan hadirnya perubahan pada pilpres 2009 nanti? Sedangkan demokrasi ternyata pilihan buruk.

Yang jelas dapat dipastikan bahwa tidak akan ada perubahan mendasar di negeri ini selama sistem yang memagari Indonesia adalah sistem demokrasi, siapa pun presidennya!

Iklan

5 comments on “Isu Perubahan para Capres dan Cawapres; Pantas Berharap?

  1. Tapi menerapkan sistem syariah juga susah, kalo ngga didukung dan banyak yang ngga tau bahwa sistem itu yang bagus.

    Alkifah : Benar Bang… Itulah tugas kita untuk mengkampanyekan sistem Islam. Sulit memang, tapi pasti bisa. Insya Allah…

  2. Meski ini bukan bidangnya blue namun blue harus peka dengan segala apapun yg hendak disampaikan oleh sang sahabat!
    Bukankah setiap diadakan capres akan bisa kita baca apa yang akan disampaikan oleh para calonnya,bang? Dan kita akan tetap menemukan sisi yang tak ada perubahannya bila dianya jadi terpilihkan, bang?
    ach…………………hanya sekedar gurauan ku ini tak akan bisa memuaskan para capres kayaknya dech.
    salam hangat selalu

    Alkifah : Begitulah realitanya, sahabat.

  3. Paling tidak kita memang harus berharap walau terkadang harapan itu terlalu sulit tercapai. Tapi apapun sistemnya yang dijalankan sebuah kelompok konon lagi sebuah negara sebagai kelompok yang paling besar, semua tergantung pada individualnya juga.

    Alkifah : Tapi Bang… selagi sistem tidak diubah, maka tidak akan ada perubahan mendasar di negeri ini. Kebangkitan sekedar impian… siapa pun presidennya. Pertanyaannya : mengapa tidak mencoba sistem baru (Islam) ? 😛

  4. eh, demokrasi itu sekuler kan yah. Sekuler itu kan memisahkan agama dari kehidupan. Agama ga boleh turut campur dalam mengurus politik, pemerintahan, pendidikan, dll.

    kite sebagai umat islam, masa ga mau diatur ama islam. Aneh ah, betul betul aneh.

    Alkifah : Di situlah letak ‘keanehannya’ Mas 😛

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s