Hanyalah Omong Kosong Para Capres & Cawapres Menolak Neoliberalisme

Istilah Neoliberalisme yang juga sering dikenal sebagai paham ekonomi neoliberal kembali mencuat akhir-akhir ini terlebih sejak para capres dan cawapres peserta pemilu 2009 saling melontarkan kritik tentang mazhab ekonomi masing-masing. Semua capres dan cawapres yang ada menolak bila diklaim sebagai penganut paham ekonomi neoliberal. Sebab mereka beranggapan bahwa ekonomi neoliberal dapat merusak kehidupan negara. Namun sayangnya upaya untuk menolak paham ekonomi neoliberal tersebut, hingga kini, tidak dibarengi dengan pemahaman di dalam sistem seperti apakah Neoliberalisme ini bisa tumbuh subur? Mengabaikan pemahaman ini sesungguhnya dapat membuat pernyataan para capres dan cawapres tersebut bertolak belakang dari fakta sebenarnya.

Sebagai sebuah paham ekonomi, Neoliberalisme merupakan aktualisasi logis dari ideologi Kapitalisme. Ibarat menanam bunga, Neoliberalisme adalah bibitnya sementara Kapitalisme adalah pot beserta tanahnya. Sedangkan demokrasi sebagai lingkungan hidupnya.

Oleh karena itu, dengan demikian, menolak neoliberalisme sebagai sebuah paham ekonomi semestinya juga menolak Kapitalisme dan Demokrasi sebagai biang keroknya.

Saya jadi teringat, dalam sebuah bacaan saya, atas apa yang menjadi dugaan seorang Aristoteles yang hidup pada zaman Yunani klasik terhadap sistem demokrasi. Aristoteles benar-benar sadar akan peran yang dimainkan faktor ”X“ dalam proses politik. Dia mengakui bahwa pembuat kebijakan pemerintah (dalam sistem demokrasi) sering tidak lebih dari sekedar ratifikasi atas keputusan-keputusan yang dibuat oleh faktor ”X“ alias pemegang kekuasaan ekonomi yang juga manifestasi dari kebijakan Neoliberalisme. Dari sini, para intelektual Barat kemudian menganggap teori politik yang disumbangkan oleh Aristoteles ini dapat membuka pintu kepada kehidupan negara yang tidak stabil. Fakta kehidupan bernegara yang menganut sistem demokrasi yang ada di dunia pun semakin membuktikan dugaan Aristoteles tersebut! Begitulah potret demokrasi.

Jadi statement para capres dan cawapres yang hendak menolak Neoliberalisme itu hanyalah omong kosong bila ternyata, di sisi lain, tetap memakai Demokrasi dan membiarkan Kapitalisme menggerogoti negeri ini.

Iklan

12 comments on “Hanyalah Omong Kosong Para Capres & Cawapres Menolak Neoliberalisme

  1. good opinion…

    fuuh…

    nanya ah… salah satu capres menggaungkan “ekonomi kerakyatan”.. bukannya ini sosialis??

    bener tak??

    sepertinya dr bacaan akh, banyak tahu para filsof klasik.. mo tanya lagi…

    demokrasi sosialis seperti apah?? ini mah kayanya ga nyambung ma tulisan yg diatas.. -_-

    nuhun

    • Terima kasih atas komentarnya Ukhti 😉

      Hmm… berbicara mengenai sosialisme… sebenarnya dulu saya sering kebingungan dalam memahami posisi sosialisme ini. Awalnya saya menduga sosialisme ini mutlak milik ideologi komunisme semata…. Tapi ternyata dalam perkembangannya, saya melihat ideologi kapitalisme sendiri disadari atau tidak juga mengadopsi paham sosialisme ini walau tidak pada bentuk seutuhnya. Loh? Buktinya tengok saja Amerika Serikat sekarang ini dengan kebijakan proteksionismenya, perpajakannya, dll.

      Agar lebih mudah memahaminya, begini Ukh, saya sering menganalogikan sosialisme itu seperti virus komputer karena sama-sama banyak variannya 😀 Itulah sebabnya mengapa kita sering mendengar istilah Sosialisme Komunisme di satu sisi dan Sosialisme Demokratis di sisi lain.

      Pembahasan mengenai hal itu memang cukup panjang. Namun secara ringkas kita dapat pahami dari dua pembeda dasar: satu, menyangkut metode, dua, menyangkut premis-premis filsafat. Yang pertama tergantung pada apakah aliran sosialisme itu evolusioner dan demokratis (disebut sosialisme demokratis), atau revolusioner dan totaliter (disebut sosialime komunisme). Pembedaan kedua terletak pada apakah aliran tersebut diilhami oleh filsafat Marx atau oleh prinsip-prinsip yang tidak begitu doktriner. Yang jelas saya melihat ada ketidakkonsistenan diantara dua semangat ideologi ini (Komunisme dan Kapitalisme) sehingga seolah-olah ideologi itu mengalami transisi, bahkan lebih ekstrim lagi, disebut juga ideologi itu berevolusi

      Demikian dulu jabaran saya Ukh…. Mohon maaf bila kurang memuaskan… maklum… ilmu pun kurang… 😛

      • sy masih blom ngerti -_-‘

        kenapa bisa terjadi kawin silang seperti ithu??

        yg kedua, yang menyangkut premis2 filsafat.. pakah ada persamaan premis filsafat antara kapitalisme ma sosialisme?? ato memang dua ideologi ini lahir dr dasar filsof yg sama??

        ‘afwan.. ‘afwan…

        • @Firda : Terjadinya perselingkuhan ideologi seperti itu adalah wajar Ukh, mengingat ideologi sosialisme dan kapitalisme sama-sama produk akal manusia yang terbatas. Pencetus masing-masing ideologi tersebut sebenarnya kebingungan dalam memilih sistem baru seperti apa semestinya yang hendak diterapkan dalam kehidupan negara. Tidak puas dengan kondisi sosial yang diakibatkan oleh revolusi industri, beberapa penulis Perancis dan Inggris abad ke-19 mulai mempertanyakan keadilan dan validitas sistem kapitalis. Sehingga pada masa itulah mulai bermunculan benih-benih ideologi sosialis. Sayangnya mereka tidak melirik Islam sebagai sebuah ideologi yang lengkap dan sempurna.

          Yang jelas, transisi bagi bentuk-bentuk sosialisme modern (seperti sosialisme demokratis, dll.) merupakan serangan terhadap sistem kapitalistik yang ada.

  2. menarik sekali tiga baris terakhir

    “Jadi statement para capres dan cawapres yang hendak menolak Neoliberalisme itu hanyalah omong kosong bila ternyata, di sisi lain, tetap memakai Demokrasi dan membiarkan Kapitalisme menggerogoti negeri ini”.

    Jadi heran. Ini para capres n cawapres itu terlalu pinter ato kurang pinter.

    Kalo misalnya mereka terlalu pinter, kbangetan deh kelakuan mereka sampai-sampai membohongi rakyat. Apabila ini terjadi, ketahuilah wahai capres n cawapres. Rakyat sekarang udah cukup pinter n ga mau terus dibohongi oleh kalian dan antek-antekmu. Dan ini merupakan sebuah pengkhianatan yang sangat besar dari para calon pemimpin itu. Ingat, ini akan diminta pertanggungjawaban di akhirat kelak (kalian pasti mengetahui ini, karena kalian semua muslim).

    Kalo misalnya mereka kurang pinter. Curiganya mereka belum kafah menganut kapitalisme. Maka tidak heran apabila ini terjadi, negeri ini akan selalu jadi objek Kapitalisme. Beda dengan Amerika n sekutunya yang menganut Kapitalisme Kaffah, mereka selalu jadi Subjek Kapitalisme.

    Bukan, bukan berarti kami menganjurkan kalian untuk menjadi penganut kapitalisme kaffah. Tapi kami menghimbau kepada para Capres n Cawapres (kebetulan semuanya muslim), untuk lebih mendalami islam sebagai aturan hidup yang salah satunya mengatur bagaimana cara mensejahterakan rakyat dengan aturan islam.

  3. Jadi statement para capres dan cawapres yang hendak menolak Neoliberalisme itu hanyalah omong kosong bila ternyata, di sisi lain, tetap memakai Demokrasi dan membiarkan Kapitalisme menggerogoti negeri ini.

    comment : SEPAKAT!!!

    afwan mas, bingung mau ngasih komment apa lagi tentang neoliberal… tulisan antum sudah menjawabnya 🙂

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s