Potret Ideal Umat Islam Tercoreng oleh Demokrasi

Islam adalah sebuah ideologi yang diturunkan oleh Allah Swt. kepada umat manusia. Ideologi Islam ini telah membawa corak pemikiran yang khas bagi manusia dalam melahirkan pandangan hidup yang benar dan mampu menyelesaikan seluruh masalah kehidupan yang ada. Akan tetapi sekulerisme dan perang pemikiran yang digencarkan oleh Barat dewasa ini ternyata berhasil membuat umat Islam rela memisahkan kehidupan mu’amalah mereka dari aturan Islam. Akhirnya umat Islam tidak lagi menjadikan Islam sebagai solusi dalam mengatasi dan memecahkan problematika kehidupan.

Adalah memilukan melihat potret dunia muslim sekarang ini. Mereka terus terjepit oleh pahitnya kemiskinan, melangitnya biaya pendidikan, maraknya KKN, ketimpangan hukum, pemimpin tidak amanah, sembako mahal, pajak yang menggigit dan biaya hidup lain yang kian melangit. Generasi mudanya pun tak henti-henti digerogoti oleh maraknya pergaulan bebas dan hedonis. Sementara di sisi lain, aset-aset negara terus diswastakan oleh para penguasanya. Semua realita pahit ini sebenarnya semakin menggores luka yang selama ini menganga di tubuh kaum muslimin. Namun parahnya Islam masih belum dijadikan sebagai pemecah masalah kehidupan yang ada.

Barangkali karena kelalaian kaum muslim sendirilah yang mengakibatkan mengapa makar-makar keji yang sengaja ditancapkan oleh Barat sangat berhasil membuat umat Islam terdiam. Hal ini pula disinyalir sebagai penyebab utama mengapa faham sekulerisme begitu mengakar di negeri ini.

Dari sekian banyak pemikiran yang lahir dari sekulerisme, salah satu racun pemikiran yang mereka suntikkan secara legal ke tubuh umat Islam adalah tertanamnya doktrin yang memandang bahwa premis “demokrasi adalah sistem terbaik” sudah final dan tidak bertentangan dengan syari’at Islam. Generasi-generasi muslim pun pada akhirnya semakin terlena dan tak lagi terusik ketika Islam telah terasing dari kehidupan. Pertanyaannya benarkah premis demikian?

Gagasan Inti Demokrasi

Gagasan inti demokrasi adalah menjadikan akal dan kehendak manusia sebagai Akal Tuhan (Devine Reason) sehingga manusia bebas menentukan bahwa kedaulatan berada di tangan rakyat dan rakyat adalah sumber kekuasaan. Di atas dasar inilah para pemikir Barat membahas topik kekuasaan/pemerintahan. Mereka kemudian melahirkan gagasan-gagasan yang sesuai dengan pandangan hidup (sekuler) mereka.

Atas gagasan inti tersebut muncullah premis kedua bahwa ‘rakyat adalah sumber kekuasaan’. Maksudnya penguasa sekadar mendapat mandat dari rakyat. Rakyatlah-melalui para wakilnya di parlemen yang berwenang membuat atau mengganti hukum dan mengangkat penguasa. Rakyat juga yang berkuasa menentukan sistem pemerintahan, apakah kerajaan atau republik; apakah republik parlementer atau presidentil. Rakyat juga yang menentukan apakah negara menganut ekonomi kapitalis atau sosialis; yang menentukan bolehnya seseorang berpindah agama, berzina, atau melakukan hubungan homoseksual/lesbianisme. Semua itu merupakan prinsip ‘kedaulatan ditangan rakyat’ dan ‘rakyat sebagai sumber kekuasaan’. Itulah inti demokrasi yang tidak akan berubah sepanjang masa, mulai dari periode Athena hingga demokrasi ala Amerika.

Celakanya, diusungnya demokrasi di negeri-negeri Islam acapkali tidak dalam bentuknya yang hakiki, yakni sebagai gagasan yang menyingkirkan hukum-hukum Allah dan membebaskan manusia untuk menbuat hukum sendiri. Gagasan demokratisasi sering dipropagandakan sebagai pemerintahan rakyat, yang mengedepankan persamaan di antara sesama manusia, mengusung keadilan, mendorong sikap kritis terhadap penguasa, dll. Dengan diabaikannya landasan filosofis atas lahirnya sistem demokrasi membuat seolah-olah demokrasi itu baik dan tidak bertentangan dengan substansi syari’at Islam. Namun demikian, akhir-akhir ini, seiring dengan menggeliatnya kerinduan umat akan kebangkitan Islam, selubung itu kian terbongkar jelas.

Dalam Islam menggunakan demokrasi sebagai sistem kehidupan bernegara jelas merupakan perbuatan haram yang berdosa. Sebab demokrasi adalah sistem kufur. Hal ini bisa ditelusuri dari akidah yang menjadi dasar munculnya demokrasi itu, yaitu sekularisme, yakni pemisahan agama dari urusan kehidupan dan negara. Sekularisme memang tidak menafikan agama, tetapi mengesampingkan fungsinya dalam mengatur kehidupan dan negara, yang berarti manusialah -tanpa campur tangan agama- yang berwenang membuat aturan bagi dirinya.

Sebaliknya Islam dibangun di atas akidah Islam, yang mengharuskan seluruh aspek kehidupan manusia dan negara diatur oleh Allah. Manusia hanyalah berkewajiban untuk menjalankan aturan-aturan-Nya dalam seluruh aspek kehidupan. Allah swt berfirman: “Tidaklah patut bagi laki-laki Mukmin dan tidak pula bagi perempuan Mukminat, apabila Allah dan Rasul-Nya telah menetapkan suatu ketetapan, akan ada bagi mereka pilihan yang lain tentang urusan mereka.” (QS.al-Ahzab: 36).

Sementara itu, merujuk pada asas demokrasi, yaitu: (1) kedaulatan di tangan rakyat; (2) rakyat sebagai sumber kekuasaan, jelas pertentangannya dengan Islam. Dalam Islam, kedaulatan ada di tangan Allah (syari’at-Nya). Artinya hanya Allah yang berdaulat, Yang berhak membuat hukum bagi manusia. Dan pelaksanaan hukum-hukum Allah tersebut sudah pasti membutuhkan kekuasaan, maka Islam memberikan kekuasaan itu kepada umat. Artinya dalam Islam, kekuasaan untuk memilih penguasa yang menjalankan hukum-hukum Allah berada di tangan umat. Konsep inilah yang secara diametral berbeda dengan demokrasi.

Ada hal lain yang menyebabkan demokrasi berbeda dengan Islam. Demokrasi selama ini identik dengan suara mayoritas. Artinya suara mayoritaslah yang berhak dalam melegislasi hukum. Sedangkan dalam Islam, hukum atau standar kebenaran bukan bergantung pada suara mayoritas rakyat maupun minoritasnya, melainkan berdasarkan syari’at.

Akan tetapi upaya untuk ’melegalkan’ demokrasi dalam Islam terus berlanjut. Para ‘pecinta’ demokrasi terlanjur menyederhanakan defenisi dengan menyamakan ‘demokrasi adalah musyawarah’. Mereka mendasarkan alasannya pada praktek pemerintahan Islam yang dibangun pada prinsip musyawarah; dan ini, menurut mereka, senada dengan prinsip demokrasi. Pendapat ini jelas terlalu ’berlebihan’. Karena syura (musyawarah) bukanlah sistem pemerintahan, apalagi sistem kehidupan. Syura hanyalah sebuah mekanisme untuk memperoleh pendapat yang paling tepat dalam suatu perkara. Sementara demokrasi bukanlah mekanisme, tetapi sistem pemerintahan itu sendiri. Jadi tidaklah pantas membandingkan demokrasi dengan syura atau musyawarah.

Dengan demikian masih pantaskah umat Islam di dunia menggunakan sistem demokrasi yang ternyata akarnya rusak dan bertentangan dengan Islam?

Pada akhirnya umat Islam pun mulai menyadari bahwa demokratisasi yang diterapkan di negeri-negeri muslim hanyalah manisan semu di balik taji sekulerisasi. Perang AS-Afghanistan, As-Irak, Israel-Palestina, dll. mengungkap demikian jelasnya bahwa demokratisasi di dunia Islam, merupakan salah satu agenda besar kaum kufar (negeri barat, AS, dll) yang sangat berbahaya bagi dunia Islam. Demokratisasi sebenarnya tak lebih sekedar strategi kaum kufar untuk merong-rong kekuatan negeri-negeri muslim dalam menghambat tegaknya Daulah Khilafah Islamiyah sebuah negara yang tidak tersekat oleh faham nasionalisme menuju baldatun thayyibatun warabbun ghafur (negeri yang baik yang penuh dengan ampunan Allah) .

Iklan

2 comments on “Potret Ideal Umat Islam Tercoreng oleh Demokrasi

  1. assalamu’alaikum..
    bang, saya mau tanya: apakah al-qur’an itu, yang biasanya dibaca oleh orang-orang itu, dicium dan disucikan ketika akan dan setelah selesai membacanya itu, seratus persen kata-katanya dari Allah? jika iya, maaf, apakah Allah juga berbicara menggunakan bahasa manusia (bahasa arab)? jika memang demikian, lantas apa beda Allah dan manusia? jika Allah berbicara dalam bahasa manusia tidakkah artinya Allah sedang menyerupai ciptaannya? jika benar demikian..

    apakah beda antara yang syar’i dan yang sekuler? apakah yang syar’i itu murni dari langit dan yang sekuler itu semata-mata duniawi dan karenanya tidak transenden?apakah demokrasi berlawanan dengan syari’at islam? dimanakah letak perlawanan itu?tidak adakah afinitas antara keduanya?

    dan, bang apakah syari’ah itu?

    salam, http://www.widjojodipo.wordpress.com

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s