Landasan Pemikiran Politik Barat Bertentangan dengan Pemikiran Islam

Tidak ada bidang pengetahuan dan peradaban manusia yang tak tersentuh oleh gairah pemikiran politik. Bisa dikatakan secara alamiah manusia hidup dalam lingkungan dan pengaruh politik. Itulah sebabnya mengapa manusia dengan sadar atau tidak sadar menghabiskan paruh hidupnya dalam urusan politik. Minat dan perhatian mendalam manusia kepada fenomena politik ini tidak mengejutkan karena manusia –menurut Aristoteles– adalah political animal (hewan politik). Sementara Syaikh Taqiyuddin An Nabhani mendefenisikan politik sebagai pengaturan urusan umat baik dalam negeri maupun luar negeri.

Adalah mengherankan bila dianggap pemikiran politik itu bebas nilai sehingga siapa saja bisa memakainya. Henry J. Schmandt, seorang Professor ilmu politik Universitas Wisconsin-Milwauke, mengatakan bahwa kajian politik tidak hanya mencakup pengelolaan masalah publik, dan kampanye pemilu secara periodik yang penuh semangat. Ia mencakup aspirasi, tujuan, keyakinan, dan nilai-nilai manusia. Ia berkaitan dengan teori dan praktik, keterampilan filosofis dan teknis.

Di dalam Islam, seorang muslim wajib menjadikan Islam sebagai satu-satunya landasan pemikiran politiknya. Hal ini senada dengan kaidah ushul fiqh yang menyatakan bahwa hukum asal seluruh perbuatan manusia harus terikat dengan hukum syara’. Akan tetapi anehnya kebanyakan orang Islam tidak menghiraukan kaidah ini. Bahkan dengan bangganya mengklaim bahwa Ideologi Islam tidak memuat ajaran politik sehingga pemikiran politik Barat yang mereka adopsi dianggap sebagai khazanah pemikiran terbaik dan modern. Padahal pada faktanya landasan pemikiran politik Barat tidaklah sedemikian (terbaik dan modern). Bahkan bertentangan dengan Islam.

Merunut sejarah lebih dalam akan tampak jelas beberapa alasan mengapa landasan pemikiran politik Barat ini bertentangan dengan Islam secara diametral. Secara umum yang mempengaruhi perkembangan pemikiran politik dunia Barat adalah karya-karya etika Aristoteles dan amoralisme Machiavelli, konstitusionalisme Cicero dan totalitarianisme Stalin, hukum alam Thomas Aquinas dan determinisme ekonomi Marx, demokrasi Atlee dan kediktatoran Hitler. Semua pemikiran ini ditolak oleh Islam.

Adalah benar bahwa kebanyakan persoalan mendasar yang dihadapi para penggagas pemikiran politik Barat pada dasarnya adalah persoalan etika. Pertanyaannya adalah siapakah yang berhak menentukan standard nilai dari suatu etika? Dalam Islam, standard nilai itu berasal dari Allah Swt., sedangkan pemikiran Barat menjadikan akal sebagai standardnya.

Yang menjadi inti tradisi dari pemikiran-pemikiran Barat tersebut adalah konsepsi manusia sebagai makhluk rasional yang memiliki kebebasan dan kehendak menentukan dirinya. Dalam pandangan Barat, yang berhak menetapkan nilai-nilai moral adalah akal dan kehendak manusia. Akal dan kehendak manusia ini mereka sebut sebagai Akal Tuhan (Devine Reason) yang menguasai dan mengarahkan semuanya untuk meraih kebenaran dan kebahagiaan. Nilai moral yang ditentukan secara rasional inilah yang menjadi pondasi politik Barat. Disinilah letak rusaknya akar pemikiran politik Barat tersebut sehingga bertentangan dengan Islam dengan menjadikan akal sebagai Tuhan.

Pemikiran-pemikiran politik Barat bila dianalisis penjabarannya ke dalam relevansi kehidupan politik masa kini pun akan menunjukkan kepada kita betapa kabur dan biasnya “nilai moral” yang mereka maksud. Sebab politik Barat dalam upayanya membangun “nilai moral” dan “pemahaman negara” dalam mengatur hubungan manusia dengan negara acapkali mementingkan segolongan elit tertentu. Lagi pula kemampuan akal adalah terbatas. Sehingga bagaimana mungkin akal yang diciptakan Tuhan itu mampu melahirkan suatu standard nilai terbaik?

Realitas ini kembali menunjukkan kepada kita bahwa landasan pemikiran politik Barat yang dipengaruhi oleh karya-karya etika Aristoteles dan amoralisme Machiavelli, konstitusionalisme Cicero dan totalitarianisme Stalin, hukum alam Thomas Aquinas dan determinisme ekonomi Marx, demokrasi Atlee bahkan kediktatoran Hitler terpancar dari ideologi Sekulerisme. Sebuah ajaran yang memisahkan kehidupan dunia dari agama.

Dengan demikian masih pantaskah Indonesia dan elit-elitnya menjadikan politik Barat sebagai landasan pemikiran politik dalam membangun sistem demokrasi yang ternyata akarnya rusak dan bertentangan dengan Islam?

Iklan

4 comments on “Landasan Pemikiran Politik Barat Bertentangan dengan Pemikiran Islam

  1. Banyak orang yang menganggap dirinya sbg politisi Islam malah bangga memakai sistem demokrasi utk dijadikan bingkai perjuangan. Sebut saja politisi PKS. Apakah mereka tidak tahu landasan sistem demokrasi adalah buah pemikiran politik Barat? Padahal menurut tulisan di atas haram memakai pemikiran politik Barat.

  2. format politik Islam seperti apa untuk sebuah negara ? Theokrasi ? sdh ribuan tahun di bahas di Barat dan telah lama ditinggalkan atau dimodifikasi kembali. Gagasan dari Timur itu kalah cepat dan kalah publikasi sehingga pemikiran Barat nyata telah menguasasi dunia. Usaha ini ibarat menegakkan benang basah…..ok mari kita renungkan dan perjuangkan bersama.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s