Indonesia dalam Pinangan Ideologi

Indonesia dalam Pinangan Sosialis dan Kapitalis, Islam Tersingkir

 Oleh Frenky Suseno Manik, S.Si.

 

Asas yang membangun ideologi Kapitalisme adalah sekulerisme. Sedangkan asas yang membangun ideologi Sosialisme adalah komunisme. Sementara ideologi Islam dibangun dari aqidah Islamiyah yang utuh. Masing-masing ideologi ini akan memerikan sepaket pemikiran khas dan melahirkan sudut pandang maupun pemahaman tertentu dalam memandang manusia, kehidupan dan alam semesta sehingga dihasilkan suatu sistem tatanan kehidupan yang berbeda-beda.

Adalah fakta bahwa ketidakjelasan Indonesia dalam memilih ideologi yang ada disinyalir menjadi penyebab utama mengapa posisi Indonesia di kancah peradaban dunia tidak berpengaruh. Satu masa, Indonesia pernah condong ke sosialis saat dipimpin oleh Soekarno. Beberapa waktu berikutnya, rezim Soeharto menggiring Indonesia untuk tunduk pada sistem kapitalis. Apa yang didapat? Dalam perkembangannya, Indonesia justru menjadi budak di antara bangsa-bangsa besar di dunia. Indonesia hanya bisa menjual bahan baku untuk diolah negara lain dan membeli barang jadinya dengan harga ratusan  kali lebih tinggi. Rakyatnya miskin, pertumbuhan ekonominya kecil dan terperangkap dalam lembah hutang luar negeri yang berbunga. Sementara kekayaan alamnya, asset-asset berharganya seperti Indosat, BCA, BII, dan lain-lain, sudah dikuasai asing. BUMN strategis lainnya seperti PT. Perkebunan Nusantara III, IV dan VII, Krakatau Stell, dan lain-lain, kabarnya juga akan diprivatisasi.

 Patut disayangkan, Ideologi Islam belum pernah dipakai untuk mengatasi permasalahan di negeri ini semenjak Indonesia lahir pada tahun 1945. Padahal fakta-fakta di atas menunjukkan bahwa resep sosialis dan kapitalis ternyata tidak mampu membangkitkan Indonesia dari keterpurukannya.

Akan tetapi, pertarungan dominasi diantara ideologi sosialis dan kapitalis terus berlangsung di Indonesia. Nuansa itu pun kian terasa pada tahun ini khususnya menjelang pemilihan Presiden RI untuk periode 2009-2014.

Dalam bidang ekonomi misalnya, perspektif kebijakan ekonomi yang diusung oleh capres dari Partai Demokrat selama ini, Susilo Bambang Yudhoyono, lebih mengarah pada paham kapitalistik atau neoliberal. Sedangkan salah satu capres pesaingnya dari Partai Gerinda, Prabowo Subianto, acap kali mengkritik kebijakan-kebijakan pemerintah itu yang dinilai sangat liberal dengan menawarkan suatu konsep perubahan yang tampak agak condong ke arah sosialis. Walaupun capres lainnya  seperti Megawati, Jusuf Kalla-Wiranto, Akbar Tanjung, Sultan HB X, Sutiyoso, Rizal Ramli, dan lain-lain, tidak terlalu menonjol dalam ‘mendeklarasikan’ asas kebijakannya, secara umum mereka tetap dapat dimasukkan ke dalam dua kategori ideologi ini, yaitu Sosialis dan Kapitalis.

Fakta di atas kembali menunjukkan bahwa posisi ideologi Islam belum muncul ke permukaan publik untuk dijadikan sebagai sistem alternatif bagi Indonesia. Sosialis dan Kapitalis yang malah terus berkompetisi memperebutkan pengaruh dan dominasi itu silih berganti. Akibatnya rakyat pun dapat dipastikan akan terus melarat dan terjepit di atas realita yang pahit. Hal ini jualah yang menyebabkan mengapa berlimpahnya kekayaan alam yang terkandung di dalam perut negeri ini ternyata tak sebanding dengan derajat kesejahteraan penduduk yang ada di atasnya. Kemakmuran rakyat pun ibarat jauh panggang dari api.

Dengan demikian bisa dipastikan bahwa tidak akan ada  perubahan mendasar pasca Pemilu 2009 nanti. Mengingat asas yang dipakai oleh penguasa maupun calon penguasa negeri ini tetap pada dua pilihan buruk, yakni kapitalis dan sosialis. Inilah cerminan negara yang tidak mempunyai ideologi yang jelas dan terus membebek pada dua arus ideologi yang ada (sosialis dan kapitalis). Dan pada masa pemerintahan lima tahun ke depan, negeri ini pun akan tetap menjadi ‘santapan’ empuk yang siap diperebutkan oleh bangsa-bangsa lain di dunia. Siapa pun presidennya. []

Iklan

3 comments on “Indonesia dalam Pinangan Ideologi

  1. artikel tentang HDI nya dong, atau al-muhajirunnya (keduanya sempalan HT) kok bisa ya, katanya jamaah ideologis

  2. Untuk alumnirohissmanjas :

    Perhatikan tulisan di atas Mas.. saya tidak bicara kelompok. Jadi berkomentarlah sesuai dengan konnteks. Terima kasih… 🙂

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s